Plastik yang Mengancam


 

 

Selama 2022, volume sampah di Indonesia mencapai 19,45 juta ton. Dari jumah itu, sekitar 18 persennya atau 3,5 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik.

Angka itu gak bisa diremehin. 3,5 juta ton itu setara sama tujuh kali berat gedung Burj Khalifa.

Data itu merupakan hasil kajian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sampah itu sama kayak kasus korupsi; sama-sama fenomena gunung es; hanya kelihatan permukaannya aja. Realitanya lebih besar dari yang dilaporkan.

Simple aja ya, kemanapun kita melangkah, pasti nemu aja sampah plastik berserakan. Mau itu di taman, jalan raya, sampai di Pantai Kuta.

Tahun 2021 lalu, Science Advice merilis daftar negara-negara “produsen” sampah-sampah plastik terbesar di dunia. Hasilnya, Indonesia masuk nomor lima dunia!

Menurut kajian Science Advice, Indonesia menghasilkan 9,13 juta ton sampah plastik. Ya, memang sih, jumlah itu hanya sepertiga dari yang dihasilkan Amerika Serikat.

Negaranya Joe Biden itu jadi produsen sampah plastik terbesar di dunia. Angkanya mencapai 34 juta ton.

Itu angka tahunan lho. Kalau diakumulasikan dari sejak plastik ditemukan, udah berapa tuh?

 

**

 

Plastik yang kita kenal dibuat dari bahan polimer. Di alam, polimer bisa ditemukan pada tumbuhan. Yakni pada bagian selulosa yang membentuk dinding sel. Tapi kebanyakan, plastik diproduksi dengan menggunakan bahan atom karbon dari minyak bumi.

Polimer atau plastik sintetis itu ditemukan oleh John Wesley Hyatt pada 1869. Awalnya, plastik sintetik digunakan untuk membuat bola biliar.

John Wesley Hyatt (1837-1920) (Albany County Historical Association’s Hall of Fame/Times Union archive)

Sebuah perusahaan di New York “menantang” John buat bikin bola biliar dari bahan yang lebih mudah dan murah untuk didapat. Sebab, sebelumnya, bola biliar itu dibikin dari gading gajah yang jumlahnya makin lama makin dikit.

Dari bola biliar, penggunaan plastik makin beragam. Hari ini kita menjumpai plastik pada kemasan makanan/minuman, casing handphone, sampai batok supra yang geter-geter.

Terus artis-artis Korea yang glowing itu pake plastik apaan?

 

**

 

Terhitung sejak 1869, penggunaan plastik yang awalnya cuma segelintir itu makin lama makin masif. Ironisnya, kebanyakan plastik itu berakhir menjadi sampah yang mencemari daratan dan lautan.

United Nations Environment Programme (UNEP) melaporkan bahwa antara 1950 sampai 2017 saja, diperkirakan ada 9,2 miliar ton plastik yang diproduksi di seluruh dunia; 7 miliar di antaranya berakhir menjadi sampah!

Seperti kita tahu, plastik itu jadi bahan yang sulit untuk terurai. Bisa sih, tapi lama. Bisa puluhan tahun, bahkan ada yang sampai ratusan tahun baru bisa terurai.

 

Memang sih, belakangan sudah muncul plastik-plastik “ramah lingkungan”. Baik itu yang berbahan oxodegradable maupun bioplastik. Tapi menurut sejumlah penelitian, plastik-plastik yang katanya “ramah lingkungan” itu ternyata gak benar-benar “ramah”

Memang, waktu penguraiannya jadi lebih pendek. Tapi tetap saja butuh waktu bertahun-tahun bagi plastik “ramah lingkungan” itu untuk “melebur” dengan alam.

Plastik-plastik “ramah lingkungan” itu hanya bisa terurai secara sempurna lewat pengolahan industrial composter yang jumlahnya masih minim banget.

 

**

 

Sampah plastik gak bisa dianggap remeh. Apalagi yang mencemari lautan.

Kalian mungkin pernah lihat video penyu yang hidungnya ketusuk sedotan plastik. Atau paus yang mati gara-gara perutnya terisi penuh sampah plastik.

Itu kasus yang “kelihatan” ya. Seperti kita tahu, sampah-sampah plastik di lautan itu terurai jadi bagian yang lebih kecil, bagian yang tak kasat mata; mikroplastik.

Mikroplastik di lautan dianggap makanan oleh para ikan, lalu “mengendap” di dalam tubuh mereka. Daan.. ikan-ikan tercemar mikroplastik itu kemudian kita konsumsi. Mungkin, dampaknya bagi kesehatan kita gak terlihat dalam 1-2 tahun. Tapi gimana dalam 5-10 tahun ke depan? Gimana anak cucu kita?

 

**

Beberapa waktu lalu, sekumpulan ilmuwan di Jepang menemukan satu jenis bakteri yang bisa memakan plastik. Tapi, apakah bakteri ini bisa dimanfaatkan untuk mengatasi sampah-sampah plastik, itu masih butuh penelitian lebih lanjut. Sejauh ini, bakteri tersebut diketahui baru bisa memakan satu jenis plastik. Padahal, di dunia ini ada lebih dari enam jenis plastik yang digunakan manusia.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bisa saja bakteri itu nantinya direkayasa sedemikian rupa sehingga bisa memakan semua jenis plastik. Juga rekayasa-rekayasa lain agar sampah-sampah plastik bisa terurai lebih cepat.

Tapi, tentu saja, semua butuh waktu. Gak bisa simsalabim.

Nah, selagi para ilmuwan masih berupaya mencari cara, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan lingkungan.

Hari ini, 3 Juli, dunia memperingati Hari Bebas Kantong Plastik.

Mulai hari ini, sekarang juga, mulai deh kurang-kurangin pakai kantong plastik. Minimal pas belanja di minimarket.

Ganti aja kantong plastiknya sama ini:

 

 

Plastik yang Mengancam

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in