Poliklitik
Now Reading:

Gak Ada Kacangnya

Gak Ada Kacangnya

Doi kenapa keki mulu ya? Situasi memanas di akhir persidangan kasus perintangan penyidikan dengan terdakwa Fredrich Yunadi, Rabu (19/4). Fredrich sempat menunjuk jari ke arah jaksa dan menyarankan ikut tinggal di rutan. Mulanya, Fredrich mengatakan pihak jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya menyediakan obat anticemas setelah diberi ultimatum olehnya. “Obat yang kami permasalahkan minggu lalu akhirnya saya bilang sama orang rutan, kalau tidak saya teriak ke wartawan bahwa mereka melakukan penggelapan dana. Akhirnya diserahkan,” ujar Fredrich di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (19/4). Jaksa KPK Takdir Suhan sempat menampilkan gambar sarana dan prasarana, bahkan mangkuk beserta kacang hijau yang dipermasalahkan Fredrich pada persidangan sebelumnya. “Biar tidak cuma protes dalam bentuk lisan, kami tampilkan foto-foto yang mulia. Bisa dilihat sendoknya hanya satu majelis, tapi kacang hijaunya banyak. Kami di rutan pada prinsipnya sudah menegakkan hak-hak para tahanan, kalau tidak, sudah banyak komplain,” kata Takdir. Fredrich menjawab dengan nada tinggi dan meminta jaksa merasakan tinggal di rutan. “Coba saja kalau Anda yang masuk ke sana, bisa tahu baik atau tidak. Itu banyak yang komplain tapi saya redam. Kacang hijaunya bisa dihitung, lebih banyak airnya, kembung dong perutnya. Gimana sih situ,” kata Fredrich sambil menunjuk ke arah jaksa. “Tolong terdakwa menghargai kami. Fasilitas kurang apa?” tegas jaksa Takdir (CNN Indonesia, 19/04/2018). Memang kalau urusan makan itu balik lagi soal selera. Mungkin lain kali dikasih bahan mentahnya aja biar diolah sesuai selera. @coepanggoceng

Share This Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Input your search keywords and press Enter.