Poliklitik
Now Reading:

Populer

Populer
Populer itu artinya “pokonya pulang teler” kan ya? Jelang perhelatan politik pemilihan presiden (pilpres) 2019, sejumlah tokoh mulai muncul ke permukaan. Gambar sosok mereka bisa dengan mudah dijumpai di baliho, televisi, maupun media sosial.
Ya, sejumlah tokoh seperti Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, maupun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tengah berusaha meningkatkan popularitasnya.
Nah, ketika popularitas itu sudah berhasil direngkuh? apakah itu berbanding lurus dengan elektabilitas?
Ahli manajemen pembangunan daerah dan kebijakan publik dari STIA LAN Said Zainal Abidin mengatakan bahwa orang seringkali mengira bahwa orang yang populer, otomatis akan memiliki elektabilitas yang tinggi. Tapi, sebenarnya tidak seperti itu. “Popularitas dan elektabilitas tidak selalu berjalan seiring. Adakalanya berkebalikan,” ujar dia. 
Figur Setya Novanto, mungkin cukup populer. Tapi, apakah itu membuat Setya bakal dipilih oleh masyarakat ketika maju dalam pemilihan misalnya?
Lebih lanjut, Said, untuk mendongkrak, maka harus ada upaya untuk memperkenalkannya. “Ada orang yang memiliki kinerja baik dalam bidang yang memiliki kaitan dengan jabatan publik yang ingin dicapai. Tapi lantaran tidak ada yang mengenalkannya, maka dia jadi tidak elektabel,” pungkas dia (Detik.com, 07/01/2018). Ya urusan popularitas memang nggak jauh-jauh dari genit di media, tapi yang jadi soal sekarang itu media semakin banyak, akhirnya jadi bingung yang mana yang dianggap paling efektif.  @mufcartoon
Share This Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Input your search keywords and press Enter.