Poliklitik
Now Reading:

Weekend Intermezzo

Weekend Intermezzo

Kemarin sore, saya mendapat tugas keluar kantor yang sesungguhnya cukup menyenangkan ketika hati mulai merasa penat di akhir minggu kerja. Seperti beberapa perusahaan yang memberikan layanan untuk menggunakan transportasi taksi, saya dengan sigap memilih taksi dengan argo, supaya bisa cetak bon untuk saya reimburse ke kantor di hari senin besok.
Ditengah hangat dan lembab suasana sore di Jakarta, saya mulai terbuai alunan musik dan semburan A/C dalam taksi. Disaat itu saya mengantuk. Tiba-tiba si supir menggumam kesal dengan nada yang cukup menggangu kedamaian saya. Ternyata supir taksi tersebut sedang jengkel pada kondisi jalanan yang carut marut. Padahal dia sendiri adalah bagian dari kecarut marutan jalanan yang kusut ini. Dia berkata

“SOMPRET! Jalanan ga pernah lancar!” tersentak saya mendengarnya.

Kemudian saya sadar dari kantuk saya dan menengok keluar jendela,

SOMPRET!! jalanan ga pernah lancar!!” sayapun mengeluarkan kata-kata yang sama.

Si supir tertawa sambil berkata,
“Sabar Pak, namanya juga Jakarta…waktu adalah uang…pengen buru-buru aja bawaanya”

Suara supir taksi itu terasa begitu adem di telinga saya, bisa menenangkan jiwa dan tubuh yang terkantuk lelah. Dengan deru debu jalanan kota, saya menerawang betapa kusutnya jalur transportasi dan ego para pengguna jalan. Tiba-tiba henpon saya berbunyi

[ringtone]
“koramil,,kopir rasa miloo,…kopasus, kopinya pas subuh serrr,…korupsi, kopi dihirup dan hepi,…. kpk kopi panjang dan keras…”

“Halo,…” Kata si supir taksi..

“Kok bapak yang ngomong?” tanya saya, “Kok bapak ngangkat telfon saya!” lanjut saya kebingungan.

“Mau pinjem henpon situ sih maksudnya,…cuma keburu nyala duluan, jadi saya reflek menjawab panggilan” kelit si supir taksi.

Lalu kami berdua tertawa… “Hahahahha”

Setelah telfonan dengan temen saya melalui henpon, saya iseng buka-buka aplikasi sosial media dimana terdapat banyak berita-berita yang terupdate di negeri ini. Dari mulai sosial, budaya, dan bahkan politik. Ternyata di media sosial pun sama saja, tidak berbeda dengan kehidupan nyata di jalanan. Banyak orang menyinyir dan mengumpat seenak udelnya. Tanpa sadar bahwa mereka juga termasuk bagian dari kecarutmarutan yang sering terjadi di dunia nyata.
3 jam berlalu, saya sampai ditujuan, lalu saya turun dan beranjak pergi, tapi tiba-tiba si supir berteriak,..

“BAYAR JING!”

Mungkin kita memang tidak akan pernah sadar…

Share This Articles
Written by

here for the lol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Input your search keywords and press Enter.